Sabtu, 19 Oktober 2019

Seru Buat Keju, ya Bersama Hometown Dairy!


Akhir pekan, waktu yang asyik berkumpul bersama keluarga. Terlebih buat ibu pekerja yang sehari-hari berkutat di kantoran. Weekend menjadi moment mujarab untuk merekatkan kasih sayang kepada anak-anak tercinta. Salah satunya dengan menemani buah hati kesayangan mengeksplor diri bersama teman-teman baru. Satu kegiatan yang super keren di penghujung pekan kemarin ialah pembuatan keju bersama Hometown Dairy. Selain menanamkan jiwa sosial, bisa menambah wawasan baru.

Dok.1 Memasak Susu Hometown sebagai bahan dasar keju
Sabtu lalu, 5 Oktober 2019, bertempat di Hall Lantai 2, Mall Boemi Kedaton Bandarlampung, ada gelaran berfaedah untuk anak-anak berusia lima hingga sepuluh tahun. Pasalnya, bersama Chef Gaby, anak-anak diajarkan langsung bagaimana membuat keju enak berbahan baku susu Hometown Dairy. Kalau bahan bakunya saja susu murni, bakalan lezat nih hasilnya.

Tepat pukul tiga sore, puluhan anak sudah berkumpul. Duduk manis di kursi-kursi kecil. Untuk kehebohan, jangan ditanya lagi, jelas ibu-ibunya paling heboh menenangkan anaknya. Maklum, di usia anak-anak yang senang lari-lari dan mengerjakan sesuatu sesuai keinginannya. Dipandu MC cantik Nanda Futia, Chef Gaby Dharmadji menyapa adik-adik manis yang siap membuat keju. Chef mulai memasak bahan dasar pembuatan keju, yaitu susu segar Hometown Dairy dan jeruk nipis hingga mendidih. Salah satu peserta cilik diajak ke panggung untuk menemani chef.

Mangkuk-mangkuk mika kecil ditata rapi di meja panjang lalu campuran susu dan jeruk nipis sudah hangat, dituang perlahan ke masing-masing mangkuk. Adik-adik sebagai koki kecil, mulai gemas nih dengan mangkuk mika disodorkan di depannya. Tak sedikit dari mereka mulai mengutak-atik campuran susu dan jeruk nipis tersebut. Hehe, maklum, para bocah rasa ingin tahunya tinggi. Sesi selanjutnya, chef dibantu asistennya membagikan mangkuk mika kecil dan kain kasa. Waah... untuk apa ya? Makin dibuat penasaran nih anak-anak.

Dok.2 Peserta koki cilik beraksi membuat keju
Penuh sumringah dan sesekali senyum dilempar ke peserta, Chef Gaby menginstruksikan untuk menyaring campuran susu dan jeruk nipis dengan kain kasa. Wih, makin ramai suasana di hall. Ditambah ibu-ibu yang turut menambah kehebohan. Ada yang sibuk menyuruh anaknya menuangkan larutan susu. Ada yang buru-buru membidik foto anaknya dengan kamera canggih di tangannya. Bahkan, ada yang sibuk meminta tisu pada asisten chef karena jari-jari anaknya mulai kotor. Wah, campur-campur deh suasananya, haha. Kain kasa dikatupkan dengan jari-jari anak dan ditempatkan di mangkuk kecil.

Keseruan kian jadi, saat botol kaca dan sendok plastik dibagikan satu-satu ke peserta. Label bergambarkan sapi dan bertuliskan Fresh Ricotta Cheese tiba di hadapan para peserta. Kira-kira tahu, apa reaksi dari para ibu-ibu yang sayang banget dengan anaknya? “Fatur, botolnya jangan dimainin dulu, nanti pecah”. “Kakak, nanti dulu buka-buka botolnya”. “Wah, gambar sapinya lucu!” Berbagai bentuk kalimat mewarnai gelaran acara fun itu. Instruksi dari Chef Gaby kembali. Adik-adik diperintahkan untuk menuangkan perlahan saringan di kain kasa dengan sendok plastik. Pastinya, sudah bisa ditebak, kan bagaimana reaksi dari ibu, mama, mami, atau ummi mereka? Ya, lagi-lagi, berbagai instruksi ibu-ibu untuk anak-anaknya. Memang keren deh acara pembuatan keju bersama Hometown Dairy Fresh Milk ini. Bikin ibu-ibu fokus dengan anaknya, sedangkan anaknya makin pintar bereksplorasi deh, hehe.

Saringan susu dan jeruk nipis sudah masuk ke botol kaca. Sekarang pisang dibuka kulitnya lalu dipotong kecil-kecil. MC mengiringi kegiatan iris-mengiris pisang sambil menyanyikan lagu Go Bananas.
Peel Bananas,
Peel bananas,
Peel-peel bananas!
Peel bananas,
Peel-peel bananas!


Dok.3 Seriusnya memotong pisang
Untuk aksi memotong pisang, peserta putri sepertinya paling hati-hati. Wajahnya tampak serius. Sementara peserta laki-laki, ada yang sembarang iris, yang penting terbelah-belah deh pisangnya, hehe....

Kemudian, satu per satu pisang dimasukkan juga ke dalam botol lalu diberi madu. Waah... ekspresi wajah mereka sekarang berubah. Serius dan cukup lama memerhatikan campuran saringan susu dan irisan pisang.


Dok.4 Asyik, Keju siap diicip-icip
Taraa... misi pembuatan Fresh Ricotta Cheese berbahan dasar susu Hometown Dairy selesai! Mudah sekali kan buatnya? Kalau pun diulang lagi di rumah, anak-anak pasti mahir nih. Apalagi sudah ada susu Hometown Dairy yang siap dijadikan bahan dasarnya. Untuk soal rasa, glek-glek deh...! Oh ya, keju yang baru dibuat, bisa disimpan dulu di kulkas atau bisa langsung dimakan loh. Paling enak kalau dioles di roti. Ada toping pisangnya. Jelas fresh, lezatnya berasa!

Acara seru pembuatan keju bersama Hometown Dairy berakhir dengan pembagian sertifikat dan seliter susu botol secara. Ditambah lagi, masing-masing peserta diiperbolehkan berfoto bersama Chef Gaby, si jago masak loh. Asyik, kan? Apalagi ibu-ibunya, anaknya seru dapat ilmu baru membuat keju, lalu pulangnya membawa sertifikat dan susu, makin sumringah deh pulang ke rumah. Ah, Hometown Dairy Fresh Milk, sudah enak susunya, keren pula acaranya!

Dok. 5. Susu Hometown Dairy, susu segar pilihan
Oh ya, kamu tahu bahwa susu segar ini, peternakan sapinya di Lampung loh? Awalnya, saya mengira ini merek luar negeri. Postur kemasan susu dari borol plastik yang tebal, jarang-jarang jadi kemasan susu di Indonesia loh. Belum lagi, susunya kental dan seperti ada creamy-nya, hehe maklum, namanya juga fresh milk, ya. Apalagi kalau baru dikeluarkan dari lemari es. Pokoknya kesegaran hakiki deh. Informasi lain, karena saya penasaran, saat menjelajah internet tentang nih susu segar, Hometown Dairy memang produksi lokal. Susu ini dikelola oleh PT Great Giant Liovestock.
Sapi-sapi yang dipelihara di sana, sangat dijamin asupan makanan dan kesehatannya sehingga hasil susunya pun berkualitas oke punya. Selain itu, susu diproses dengan teknologi modern dan menjadi tipe susu pasteurisasi 100% yang murni dan alami. Oleh sebab itu, susu ini tidak bisa terlalu lama ya jika tutup botolnya sudah dibuka.

Dok..6 Peserta dapat ilmu, sertifikat, dan susu sehat loh!
Susu sehat Hometown Dairy dibuat tanpa bahan pengawet, gula biang atau tambahan, campuran air, dan sebagainya. Pokoknya memang murni 100% susu sapi. Untuk menjaga kesegaran susu, kita bisa menyimpannya di lemari es dengan suhu rendah. Buat kamu pecinta susu, jangan khawatir khasiat dari susu segar satu ini. Kebutuhan protein kamu bakalan terpenuhi sebab sapinya saja sudah dirawat dengan baik. Buat si adik kecil (dengan catatan usia di atas satu tahun) bisa mempercepat pertumbuhan gigi, ya. Nah, buat yang sudah dewasa, tetapi masih tetap cinta susu murni, jangan khawatir, ternyata susu pasteurisasi ini dapat mencegah osteoporosis loh karena mengandung kalsium dan fosfor. Intinya, susu Hometown Dairy jelas aman untuk siapa saja, baik yang muda dan dewasa. Jangan diragukan lagi! Susu segar apa yang paling sehat dan kualitasnya oke? Jelas, Hometown Dairy Fresh Milk, dong.*

Jumat, 11 Oktober 2019

Kreasikan Bakso Daging, Bonanza Jagonya!


Menyajikan makanan sehat dan lezat, sepertinya menjadi tanggung jawab tersendiri bagi seorang perempuan. Terlebih jika predikatnya kini sebagai istri atau ibu yang menginginkan putera-puterinya makan makanan bergizi. Tak sedikit dari mereka yang menyediakan waktunya untuk menjelajah resep di internet. Berlama-lama di depan layar ponsel pintar demi mendapatkan berbagai menu unik dan menggiurkan lidah. Ada yang menyimpan resep untuk satu pekan ke depan, ada juga yang mendadak untuk hari itu. Namun, ada juga yang rela mengocek kantongnya untuk membeli makanan cepat saji melalui aplikasi canggihnya.  

Soal beli-membeli makanan cepat saji, kita wajib tahu nih apakah makanan yang dipesan itu fresh atau sudah “menginap”. Bayang pun, jika menu yang kita pesan, ternyata sudah tidak segar dan warnanya berubah. Pastinya, tidak mau kan mendatangkan penyakit di tubuh kita? Ujung-ujungnya malah sakit perut deh nanti!

Zaman sekarang, frozen food sedang populer di tanah air kita. Tak sedikit usaha kemasan makanan beku ini dijual di pasar tradisional hingga supermarket. Ada nugget, sosis, empek-empek, siomay, donat, hingga bakso. Semua dikemas dalam bungkusan yang siap diolah secara praktis.

Nah, belum lama ini, saya berkunjung ke Mall Boemi Kedaton, Bandarlampung. Tepat di Hall lantai 2, sedang berlangsung perhelatan Mom & Baby Fair 2019 selama 18 September sampai 8 Oktober 2019. Ada satu pertunjukkan yang membuat saya diam di sana cukup lama: demo masak dari Frozen Bakso Bonanza.



Olahan Bakso Sehat, ya Bonanza!


Beberapa kegiatan berlangsung di sana. Namun, saya penasaran dengan demo masak berbahan dasar bakso. Acara dipandu oleh MC Nanda Futia, Chef Gaby Dharmadji mulai beraksi. Ada tiga menu olahan bakso di hari itu: kuah, goreng krispi, dan bakar. Soal bakso, saya yakin semua pasti suka. Namun, soal mengkreasikan bakso, terkadang kita malah kebingungan deh buat mengolahnya, hehe. 


Dok.1 Chef Gaby siap mengkreasikan tiga menu dari bakso Bonanza





Semua bumbu sudah siap di meja. Mulai dari tulang sapi, empat siung bawang putih yang telah dihaluskan, satu batang daun bawang, bawang merah goreng, garam, serta lada. Nah, peserta makin antusias. Apalagi saya! Jari-jari Chef Gaby beraksi dengan lihai. Masakan menu pertama ialah bakso kuah. Setelah bahan-bahan dihaluskan, lalu ditumis sejenak sebelum dituang ke dalam rebusan air. Oh ya, jika ingin dicampurkan dengan tulang sapi, tulang dapat dibersihkan dengan cara dimasak di dalam air mendidih kurang lebih lima hingga sepuluh menit. 

Dok.2 Proses membuat bakso kuah ala chef Gaby
Berapa banyak bungkus bakso yang dimasak? Bergantung kebutuhan kita. Apalagi buat pecinta bakso seperti saya, menikmati bakso yang empuk, tekstur berserat, dan tanpa MSG alias no micin, bakalan lahap deh makan bola-bola bakso. Cara memasak bakso ini pun sangat mudah. Jika daging bakso sudah mengapung di permukaan air yang mendidih, artinya bakso matang dan siap disajikan. Oh ya, satu saran dari chef, jangan terburu-buru memberikan garam. Biasanya, bahan-bahan tertentu akan menghasilkan rasa asin sehingga tidak perlu memberikan garam terlalu banyak loh. Saya noted baik-baik, chef.

Menu lain tak kalah menggiurkan di acara demo masak, ada bakso tepung krispi dan bakso bakar dengan balutan keju mozarela. Soal rasa, bisa diadu dengan bakso kuah. Sama-sama nendang di lidah dan bikin ketagihan. Dua menu ini pun sangat simpel. Untuk membuat bakso krispi, cukup menyiapkan tepung dan bahan-bahan pendukung, seperti garam dan bumbu rasa. Bola-bola bakso diputar-putar di mangkuk berisi tepung lalu dimasukkan ke dalam minyak panas. Sementara menu bakso bakar, bakso-bakso ditusukkan ke bambu lidi, lalu dibakar dan dipoles dengan campuran saos. Tak lupa, bakso dibalut dengan keju mozarela. Dijamin enak! Oh ya, bakso Bonanza bisa juga ya dikreasikan menjadi bahan omelet, campuran capcai, atau sambal goreng bakso, pedas-pedas endeeus di lidah.

Dok.3 Menu kedua, bakso krispi yang gurih dan lezat


Memang Bakso Pilihan Utama

Bonanza memang bakso pilihan. Selain produk frozen ini berasa sekali dagingnya karena ternyata 84% berbahan baku daging asli! Wiw, jarang-jarang produk bakso benar-benar memerhatikan kuantitas persentase daging sapinya. Buat ibu-ibu yang anti micin, pasti suka banget dengan bakso ini. No MSG, No Formalin, apalagi borax. Nih, bakso beneran sehatnya.


Dok.4 ketiga, Bonanza bakar ala Chef Gaby
Sapi-sapi yang dipelihara, sangat diperhatikan juga asupan makanannya. Berasal dari limbah nanas, membuat daging sapi memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu empuk! Wah, pokoknya tidak bakal keliru untuk mencicipi dan mengonsumsi bakso ini sebagai menu makanan di rumah. 
Dok.5 Bersama Chef Gaby dan Bakso Bonanza
Bakso Bonanza hadir dalam dua kemasan ukuran: 180 gram dan 500gr dan bisa didapatkan di supermarket-supermarket kesayangan kita.  Tenang nih, buat pecinta bakso, Bonanza memberikan jaminan keamanan makan karena dari proses pemilihan makanan untuk sapi-sapi hingga penyembelihannya pun sangat terjamin mutunya. Jelas, di bawah PT GGF (Great Giant Foods) senantiasa menerapkan sistem sustainable integrated farming and production memberikan alternatif produk terbaik yang memenuhi aspek 3 F: food safety (keamanan pangan), food traceability (makanan yang dapat dipertanggungjawabkan dari pemilihan bahan baku hingga siap dimakan), dan food reliable (makanan yang dipercaya dan konsisten untuk soal cita rasa). Dengan aspek-aspek tersebut, jangan pernah ragu lagi dengan produk keren nansehat satu ini. Dijamin bergizi dan bersertifikat halal. Mau coba bakso lain? Dipikir-pikir saja dulu, hehe... Kalau ada Bonanza, buat apa ganti bakso lain. *






























































































































































Senin, 17 April 2017

Menggamit Ide dari Sekitar

www.lampost.co

Hai, salam menulis dan lanjut lagi menulis!

Postingan saya kali ini ingin berbagi cerita sedikit saja. Ya, insya Allah hanya sedikit saja, hehe.... karena harus menyiapkan materi untuk ujian tengah semester besok pagi. 

Kali ini, saya ingin sharing terkait penerbitan cerpen saya di Lampost. Sebenarnya ini bukan kali pertama cerpen saya dimuat di koran yang sudah mentereng nama di Lampung. Dulu... sekali, pernah dengan kegembiraan saat remaja di bangku SMA, tulisan saya sudah berhasil hiasi surat kabar dan majalah islami sekitar di tahun 2005. Selebihnya, kabar hilang begitu saja. Eits, saya tidak akan panjang lebar menyampaikan ini, karena malam kian larut, angin kian menelusup bebas di pori badan.

Singkat cerita, saya mengirimkan cerita pendek dengan judul Mamak dengan Sekarung Rindu ini sekitar satu bulan lebih yang lalu. Saya akui, untuk nembus tulisan di Lampost cukup bersaing. Mengapa? Karena beberapa penulis nasional sering kali wara-wiri di Lampost. So, harus menanti dengan sabar bahwa proses menulis dan kegembiraan tulisan untuk segera terbit itu tidaklah instan. Setuju, ya?

Certita ini sebenarnya merupakan kisah nyata yang dialami tetangga saya di perumahan yang memang benar-benar kurang dipedulikan oleh anak-anaknya. Mereka sibuk mengejar dunia yang entah sampai kapan bisa mereka genggam. Hingga akhirnya memang, ibu cukup lansia itu senantiasa meruah-ruahkan kesedihannya padi kami: saya dan suami. 

Nah, itu sekelumit cerita. Untuk lengkapnya, saya akan lampirkan cerpen saya yang dimuat di Lampost edisi Minggu, 16 April 2017. Dan satu keesimpulannya adalah bahwa ketika kita menulis sebenarnya tidak jauh-jauh dari kejadian yang kita, tetangga, saudara, bahkan teman kita. Tinggal bagaimana cara kita memoles cerita dengan diksi, imaji, dan kerapian ejaan, pastinya.

Singkatnya, teruslah menulis, Menulis itu asyik. Tidak sekadar eksis, tetapi kamu juga melepas kebaikan melalui tiap kata yang kamu sampaikan. 
Semoga artikel ini bermanfaat, ya... 

Selamat beribadah dengan kata-kata. 

Cerpen Mamak dengan Sekarung Rindu
Karya Destiani 

Siapa yang tak mengenal Mamak Ratni? Wanita yang sehari-hari memikul sekarung rindu. Bumbungan rasa itu, ia bawa ke mana-mana. Ia tahan beban besarnya saat di ruang tengah, pasar, dapur, berbincang sejenak dengan tetangga sebelah hingga kembali di kasur tipis tempat peraduannya menumpahkan luka. Air matanya meleleh. Saat tangisnya meruah-ruah, ia lepas ikatan karungnya yang tetiba berubah renjana. Setibanya besok, ia menimang kembali dengan genap bercampur duka.


Sudah banyak tetangga meminta mamak membuang dentuman rindu yang siap menghantam. Namun, dengan setangkup yakinnya, tiga buah kesayangannya pasti kembali di sisinya.
“Anakmu tak pernah datang lagi,” ucap salah satu tetangga yang tak sekali-dua kali membawakannya semangkuk sup panas. Memiuh-miuhkan sesendok demi sesendok lalu disuapkannya di mulut Mamak Ratni. Mata Mamak Ratni sedikit berbinar. Rasa kuahnya persis buatan si bungsu kesayangannya, Maya. Ia meminta disuapkan kembali. Lagi.
“Ini buatan Maya? Enak. Takaran bumbunya pas,” kata mamak. Ia memberikan isyarat disuapkan kembali. Kunyahan di mulutnya penuh.
“Mak harus ikhlaskan anak-anak. Mereka sudah dewasa. Mereka sedang memburu dunia.” 

Mamak Ratni diam. Ia menahan kunyahan sup yang dilumatnya. Mata cekungnya kian jelas. Senyumnya menyembul sedikit. Tapi kali ini sedih sepertinya meronta lagi. Sebelum dikunyah habis sup itu, rembesan air bening meleleh. Suara serak dari tenggorokannya mulai terhuyung ke telinga.
“Anakku pasti datang. Tidak mungkin buah melupakan tempat dia bermula,” optimis Mamak Ratni kemudian ia setengah terkikik. Tetangganya itu mengernyit pelan dan memahami betapa rindu mulai menyiksa perempuan renta itu.
*
Mamak berpikir keras. Sofyan, Dendri, dan Maya. Tiga nama itu yang dinanti. Tiga idiolek anak-anaknya dinanti telinganya. Wajah-wajah itu membayang. Teringat dua puluh tahunan lalu, lengannnya ditarik-tarik tiga anaknya berebut bermain tali. Tawa-tawa kecil mereka saling menyahut. Manyunan bibir-bibir mungil tak pernah dilupa Mamak. 

Sedang kini, tak ada yang mencium takzim tangan—seperti dulu—saat ketiga anaknya berpamitan berangkat sekolah. Mungkin karena keriput-keriput kering itu mencuat. Atau mungkin, rambut putih dan pandangan mata mengabur, yang menjadi beban pikiran akan menyusahkan hidup anak-anaknya.
Mamak Ratni masih menanti. Di tempat yang sama dengan ikatan buncahan rindu yang menjadi dan terus merogoh relungnya.
*
Suatu ketika, Mamak Ratni sedikit menyombong. Betul, apa katanya pada tetangganya satu itu. Buah takkan lupa di mana ia bermula. Putri bungsunya, Maya, menemuinya. ID card-nya menggantung melingkar di leher jenjangnya. Namanya tertera jelas sebagai wartawan di koran Sumatera.
“Maaf, Maya baru bisa datang. Mamak apa kabar?” jemari halus itu meraih telapak tangan mamak, menciumnya penuh kelembutan.
“Syukur kamu masih ingat mamak, May,” mamak melirih. Maya tersenyum simpul. Ia membuka dua bungkus nasi yang dibelinya di rumah makan pinggir jalan.
“Makan, Mak,” disodorkannya sebungkus nasi-ikan asam pade.
“Mamak rindu masakan Maya.”
Maya membuang napas. Tangannya sudah siap menyuapkan sesendok nasi, menjadi enggan.
“Maya sibuk liputan, Mak. Maafkan Maya dua minggu ini tidak pulang. Semoga Mamak maklum,” jelas Maya lalu setengah memburu suapan agar segera ludes.
“Sebentar lagi Maya pamit, Mak,” katanya, setelah membuka satu pesan di ponsel canggihnya, “masih harus ke luar kota,” tambahnya.
“Baru saja bertemu gadis mamak.”  Mamak meneguk segelas air hingga tandas. Rupanya, rindu menyedot segala cairan di tubuh mamak. Mamak memminta diambilkan sebotol air. Ia meraih minumnya lalu diteguknya hampir habis. Kali ini minum bukan untuk membayar kerontang di kerongkongannya. Ada sedih dan luka yang mesti ditutupi. Ada air bening mengumpul di sudut mata dan siap dilesatkan jatuh ke mana saja.
*
“Mamak harus bisa ikhlaskan anak-anak,” ucap Runtah untuk kesekian kali. Ia masih setia menemani kesedihan Mamak Ratni. Ya, dua mata itu ditemui Runtah masih sama dengan dua minggu lebih beberapa hari lalu. Ketika Mamak Ratni merindukan sosok-sosok ketiga anaknya.
“Anakku Maya dua minggu lalu ke sini. Menyuapi makan dan mencium tanganku. Tapi sekarang....” kata Mak Ratni terputus. Ikatan tali rindunya kembali kencang. Tubuh kuyunya hampir tak kuat menopang.
“Mamak harus kuat. Nggak baik terlalu banyak pikiran,” nasihat Runtah, “minum ini,” Runtah menyuruh Mamak Ratni segera meminum rebusan temulawak. Sakit maag Mamak Ratni akhir-akhir ini menyiksa. Tapi bagi mamak, rindunya jauh lebih tajam dibandingkan sakit lambungnya itu.
Mamak sempat malu, ia pernah menyombongkan diri bahwa anak-anaknya akan menemui dan menghiburnya. Seharusnya, sejak dulu, Mamak Ratni harus bisa membesar-besarkan hati sebelum anak-anak bujangnya meminang wanita. Seharusnya, Mamak Ratni menyiapkan sepotong daging itu untuk belajar ikhlas bahwa istri dari kedua lelakinya terlalu mengikat batasan untuk menemui tempat rahim mereka ke dunia. Mamak merindu. Rasa yang tak bisa tersampaikan, begitu mengilu.
Dua anaknya, Sofyan dan Dendri tak pernah mengabari di mana mereka. Sempat sekali. Itu pun dua bulan lalu melalui percakapan singkat di ujung telepon. Mereka hanya menyampaikan kalau belum sempat menemui sang mamak. Urusan pekerjaan merongrong waktu mereka. Istri mereka pun, tak ada yang merajuk datang dan menghibur. Semua seperti asing. Seperti dulu, sebelum mamak tahu anak-anaknya memiliki tambatan hati.
*
Dari kesekian anaknya, mamak menaruh harap pada Maya. Mudah bagi mamak meminta Maya tetap di sisinya. Bila pun Maya menikah, mamak akan pinta pada calon suami Maya agar mereka tinggal bersamanya. Toh, mamak pikir, dirinya takkan lama lagi hidup. Mamak tak mau sekarung rindu itu membunuhnya. Mamak sudah keberatan. Mau mamak lepas dan tidak ingin ia ikat lagi di pundaknya. 

Mama mencari Maya. Tiga minggu tak ada kabar. Mama penasaran, liputan macam apa yang dikerjakan putri kesayangannya. Lagi pula, mamak ingin tahu di mana tempat Maya bekerja.
Mamak ingat satu nama surat kabar yang tertera jelas di tanda pengenal Maya. Mamak nekat. Ia sudah tak sanggup saban pagi harus menimang rindunya sebelum ia gendong di bahunya. Tubuhnya bungkuk gegara rindu sialan itu. Rindu paling jahat menusuk-nusuknya.
“Izinkan saya melepas rindu. Saya sudah tidak sanggup,” kata mamak saat tiba di muka kantor Maya. 

Perempuan itu menyeret kakinya. Ia sedikit mengencangkan tali ikatannya agar tidak merenggang meski sebentar lagi mamak akan mengurai rindunya di depan Maya. Mamak tak ingin memupuknya kembali. Tidak akan mau lagi.

Hening. 

 “Maaf, Maya tidak pulang-pulang, Mak,” imbuh Maya pada perempuan itu. Ada yang mengepul di udara, seperti tarian awan. Mamak terbatuk-batuk. Ia tak biasa menghirrup asap rokok.
“Maaf, Mak. Aku ketularan Mas Derri,” kata Maya lalu menjejalkan sisa batang rokok di asbak.
“Maya ingin menikah dengan Mas Derri, Mak.” Mata mama berbinar. Betapa senang bukan kepayang. Mamak pasti akan tinggal bersama Maya dan suaminya. Rindu itu tidak akan ia tanak kembali.
*
Mamak berhasil melepas ikatan sekarung rindu itu. Ia pulang dengan bahagia. Jalannya pun cukup tegak meski renta tak bisa dihindar lagi. 

Rindu mamak memang sudah lepas. Beban itu memang telah pergi. Akan tetapi, dengan lancang, si rindu itu hadir setelah sepekan mamak menyendiri lagi di rumah. Badan mamak mulai terasa berat lagi. Terlebih-lebih saat mamak menghubungi Maya, telepon mamak tak pernah disahut. Mungkin sibuk. Mungkin sedang bermesraan dengan kekasihnya. Segala mungkin pasti ada. Dan segudang kemungkinan yang menyulap mamak menjadi pesakitan. Lagi.

Siang itu, mamak menggigil hebat. Dengan jalan tergopoh menggendong sekarung rindu. Rambutnya kusut, wajahnya kumal. Mamak duduk menyendiri. Menanti Maya yang tak juga kembali menjemputnya, seperti janjinya beberapa waktu lalu.
“Sudah, ikhlaskanlah anak-anakmu dengan dunia mereka, Mak. Jangan terlalu banyak pikiran,” Runtah menyuapi mamak semangkuk sup hangat. Ia tak pernah bosan melayani mamak seperti ini.  
“Mereka pasti datang,” kata mamak pelan.

Semestinya, sejak awal mamak menyiapkan sepotong hati penuh kelapangan. Menyabar-nyabarkan segenggam daging itu untuk memberi ruang pada timbunan rindunya. 

Tubuh mamak kian terasa berat. Langkahnya tergopoh dan tubuhnya lebih bungkuk dari biasanya. Beban yang digendongnya makin hari, makin tinggi. Jika ia kembali di peraduan lukanya, di kamar yang berukuran tak seberapa, ia akan meruah-ruahkan kembali dukanya Di tempat itu, mamak melepas dan menimang rindunya. Setiap hari sebelum Maya menjemputnya. Selalu demikian.

Dua bulan mamak menanggung risiko rindunya, tapi sekejap semua hilang. Apa yang diharap, Tuhan mengabulkan.
“Maya datang, Mak,” ucap Maya di siang itu. Wajahnya pasi. Mama terheran bukan main, gadisnya tak seindah beberapa bulan lalu.
“Maya ingin membesarkan anak ini,” lanjut Maya sambil mengelus perutnya, “Derri sudah sebulan tidak menemui Maya. Ia kembali sama istri tuanya.” 

Mamak memang berhasil melerai rindunya. Maya kini jelas di hadapannya. Namun seketika, mamak ingin melesatkan pisau di perut putrinya yang telah berani melahirkan duka di matanya. [*]
 

Jumat, 14 April 2017

Tugas yang Belum Kapok

www.google.com

Tugas yang belum kapok. Sedikit sinisme mungkin ya dari judul yang saya usung. Humm... betapa tidak, suah dua bulan ini tugas-tugas yang saling susul-menyusul belum kapok juga berdatangan, padahal sudah tepat waktu dibuat, didoakan agar dipermudah Allah, juga presentasi yang butuh bacaan more and more.

Tugas yang belum kapok, kalimat nyinyiran dari saya. Betapa tidak, mau menggarap tulisan, tapi mesti mengalah terus memprioritaskan urusan akademik. Bersabarlah...

Tugas yang belum kapok. Ya... mungkin kapoknya jika sudah di semester tiga akhir ketika langkah-langkah kaki berjalan lebih cepat untuk mnegejar dosen, menanti dosen, serta harap-harap cemas tugas akhir perkuliahan segera tuntas.

Dan ketika tugas berubah menjadi "rasa ampun" yang tidak ingin hadir lagi, di situlah saya merasakan "kenyamanan" untuk menghabiskan waktu-waktu di kota budaya ini: berjalan bersama suami terscinta, juga anak tersayang sebelum pundak ini kembali berat menjalani amanah mengabdikan diri untuk negeri.

Segeralah kamu kapok, wahai tugas! Bersabarlah diri saya... Biarkan tugas-tugas menjelajahi pikiranmu dulu untuk terus memperdalam kompetensi, mendewasakan sikap. Saya tidak mau kapok dulu padamu, tugas.*

Diawali dengan Window to The World

           Bismillah.... kemblai menulis, memenuhi blog pribadi yang lama tak ditumpahi segala kata yang malah dengan sengaja saya penjaraka...