Tampilkan postingan dengan label Catatan Agenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Agenda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 November 2014

Ahad Ceria, Gelar TBM dan Diskusi

"Ahad ceria" frasa yang saya dapatkan di status BBM Ketua FLP Bandarlampung, Ahmad Tarnudzy pagi ini. Ya, frasa itu ditujukan gelaran Taman Baca Masyrakat (TBM) FLP Lampung di seputaran GSG, Unila. Seperti biasa, TBM diadakan pukul 06.00--10.00. Aku yang membaca status Ahmad, langsung terbirit-birit membereskan ini-itu. Semua pakaian dimasukkan ke mesin cuci, dibubuhi deterjen dan paraaaap.... tangan beralih ke pekerjaan lainnya.

dok.suasana TBM FLP Lampung dan Bandarlampung
Sambil mencuci, saya lakukan "dinas" lainnya. Mencuci piring, menyapu, daaan tugas lainnya. Biasa, sebelum berangkat, harus mencuri hati ortu dulu. Biar berangkat dengan hati plong karena pekerjaan sudah beres semua. Jiaaah! Napas cukup ngos-ngosan mengejar waktu untuk segera tiba di GSG. Sedikit makanan belum masuk ke lambung, badan sudah terasa cukup lemas. Tapi, bila tahu semangat Sang Ketua FLP Balam dan Ketua FLP Lampung (Tri Sujarwo), semangat saya pun melecut kembali.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30. Alhamdulillah, "dinas rumah" hampir kelar. Dan saya makin ngiri ingin segera tiba di sana. Terlebih ketika Ahmad mem-posting foto pengunjung TBM pagi ini. Beeuuhh.... ramai! Tunggu, aku, teman-teman!

Sebungkus makanan ringan sudah dibeli. Ada beberapa jenis kue yang saya bawa untuk teman-teman di TBM. Perjalanan melaju kurang lebih 25 menit. Huumph... untung saja tiap Ahad kondisi jalan cukup lengang. So, laiknya pembalap deh pagi ini. Sriiiiiing...

Satu janji yang akan saya tepati pagi ini, yakni bertemu Sri Utama (Kadiv. Danus FLP Lampung). Kami akan diskusi ejaan sebab beberapa hari lalu ia menghubungi saya, ingin sekali belajar tentang ejaan. Dengan senang hati, OK, jawab singkat saya.

Tepat pukul 08.45 saya tiba di lokasi. TBM ramai dikunjungi. Tidak hanya orangtua, tetapi juga adik-adik usai karate pun mampir di sini. Aiih, senang sekali saya. Rasa lelah yang belum terhapus tadi, luruh begitu saja.

Rabu, 20 November 2013

SMP IT Ar Raihan Adakan I-Camp 2013

Jumat (15/11) suasana SMP IT Ar Raihan tampak riuh. Sejak pukul 7 pagi, para siswa Kelas VII berkumpul dan bersiap-siap mengikuti Ibadah Camping (I-Camp). I-Camp yang ditujukan para siswa Kelas VII tersebut merupakan hajat tahunan bidang kesiswaan di sekolah yang terletak di Jalan Purnawirawan 114, Bandarlampung. Rencananya, I-Camp dilaksanakan selama tiga hari (15--17 November 2013) di Taman Wisata Wira Garden. Siswa kelas VII yang mengikuti I-Camp terdiri atas Kelas Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Afwan, dan Ali bin Abi Thalib.

Poin terpenting yang menjadi tolok ukur pelaksanaan I-Camp ialah menjadikan Allah sebaik-baiknya penolong dengan meneladani akhlak Rasulullah. "Melalui I-Camp, berusaha mewujudkan para siswa Kelas VII taat pada Allah, mandiri, disiplin, jasadiyah yang kuat, serta bertanggung jawab," papar Ketua Pelaksana I-Camp, Hernawan.

upacara pelepasan I-Camp 2013
Panitia yang dikerahkan dalam kegiatan I-Camp meliputi para guru dan siswa yang terpilih dari masing-masing ekstrakurikuler yang digelutinya. Ada sekitar 21 panitia guru dan staf, juga 30 siswa yang turut andil, meliputi panitia teknis dan mentor.

Sekitar satu minggu sebelum pemberangkatan, panitia mengadakan sosialisasi I-Camp terhadap orang tua siswa. Para orang tua menyambut hangat kegiatan positif untuk putra-putrinya dengan syarat tetap memerhatikan kondisi cuaca yang sedang musim penghujan. Dalam sosialisasi I-Camp itu juga dibahas barang bawaan siswa yang mesti dipersiapkan, baik individu, maupun kelompok. Ternyata I-Camp tidak hanya diwajibkan bagi para siswa Kelas VII saja, melainkan siswa Kelas VIII yang sebelumnya berhalangan turut serta kegiatan.

Proses pemberangkatan para siswa menuju lokasi dilakukan cukup sederhana. Biasanya, para siswa terbiasa keluar-masuk mobil mewahnya, maka kali ini mereka menaiki mobil angkutan umum yang dicater panitia. Jumlah mobil angkutan umum disediakan sebanyak sepuluh buah untuk alokasi masing-masing kelompok didampingi guru dan panitia mentor. Barang bawaan para siswa diangkut truk. Sementara sisanya, menaiki bus milik yayasan. "Guru bersama siswa di angkot sebagai pendamping dan pengarah," tambah Hernawan sekaligus guru IPA kelas VII.

Sebelum keberangkatan ke bumi perkemahan, diadakan upacara pelepasan para peserta Ibadah Camping oleh Kepala SMP IT Ar Raihan, Zaiyad Namiri. Tak lama dari itu, pemberangkatan pun dimulai pukul 08.30 dengan sejuta harap terbaik yang ditanam orang tua dan guru yang melepas kepergian peserta I-Camp 2013. []

Senin, 07 Oktober 2013

Usai TBM, FLP Adakan Kelas Menulis

Minggu (6/10) FLP Lampung dan Bandarlampung adakan TBM (Taman Baca Masyarakat) di seputaran GSG Unila. Pekan ini merupakan kali ke-3 taman baca diadakan pukul 06.00--09.00. Turut hadir Naqiyyah Syam (Ketua FLP Lampung), Tri Sujarwo (Ketua FLP Bandarlampung), dan para pengurus FLP. 

Suasana TBM FLP
Tujuan pelaksanaan taman baca masyarakat dalam rangka meningkatkan minat baca warga Bandarlampung. Tak sedikit para pengunjung yang berjalan-jalan di area GSG, meluangkan waktunya sejenak guna membaca. Bahkan ada beberapa pengunjung yang menghibahkan koleksi buku-buku kesayangannya, seperti Pak Anindito (Dosen Poltekkes) dan Eko Pitoy (Pengajar LBPP Lia).

Ragam bacaan hiasi taman baca keliling FLP. Dari kumpulan Majalah Annida, buku cerita anak, kumpulan cerpen, buku-buku tip sukses peluang bisnis, dan lainnya. Gelaran TBM tak hanya menyajikan buku-buku gratis, tetapi juga menjual buku cerita anak SOCA, buku Menulis Dengan Telinga karya Adian Saputra (jurnalis Lampung Post) dan sebagainya. Kedepannya, akan ada peminjaman dan penjualan buku dengan jumlah lebih banyak lagi.

TBM usai pukul 09.00. Acara berikutnya kelas menulis. Program kerja kaderisasi yang dikoordinatori Destiani (Ketua Kaderisasi FLP Bandarlampung) itu diadakan dua pekan sekali dengan materi yang berbeda. Materi yang diusung kali ini ialah penulisan cerpen dengan pemateri Naqiyyah S
Sedari kecil budayakan membaca
yam--Ketua FLP Lampung--penulis yang telah banyak menelurkan karya.

Dalam kelas menulis cerpen, Naqiyyah memaparkan bahwa menulis dibutuhkan kesabaran dan kekonsistenan. Harus tahu jam biologis untuk menulis. Harus memiliki golden time untuk menulis. Entah pada tengah malam ataupun jelang subuh. Satu hari menulis satu paragraf. Bila diakumulasikan satu pekan, tulisan yang tercipta akan terkumpul banyak.


Minggu, 15 September 2013

FLP Lampung Hidupkan Rumcay

Minggu (15/9) Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung hidupkan Taman Baca Rumcay di sekitaran GSG Unila, Bandarlampung. Gelaran berlangsung pukul 07.00--10.00. Hadir dalam acara tersebut
para panitia Taman Baca Rumcay
Naqiyyah Syam (Ketua FLP Lampung), para pengurus FLP Cabang Bandarlampung, dan para calon anggota FLP Cabang Bandarlampung yang tengah magang kepenulisan.

Taman Baca Rumcay merupakan akronim dari Rumah Cahaya Hasilkan Karya yang dipelopori Helvy Tiana Rosa, pendiri Forum Lingkar Pena tahun 1997. "Rumcay merupakan bentuk nyata dalam membudayakan membaca dan menulis di tengah-tengah masyarakat," papar Naqiyyah. "Untuk sementara, gelaran Rumcay tidak hanya bertempat di GSG Unila saja, melainkan di PKOR Wayhalim pada sore hari. Saat-saat itulah, banyak pejalan yang berlalu-lalang. Sekaligus sebagai ajang refreshing pengurus FLP yang mungkin saja jenuh dengan kelas menulis dalam ruangan," tambahnya. Jenis buku yang disediakan di Rumcay beragam. Dari tabloit, kumpulan cerpen, novel karya para pengurus FLP, hingga buku cerita anak dan krayon yang khusus disediakan untuk para orang tua yang membawa putra-putri kecilnya. Gerakan taman baca ini pun digelar FLP Cabang Metro di area car free day Taman Kota Metro yang diramaikan OI Metro dan Griya Baca.


pengunjung berdatangan
Dalam waktu dekat, Rumcay akan dibentuk kepengurusannya. Sebab taman baca ini tidak masuk dalam program kerja divisi di FLP. Nantinya, juga akan ada launching tiga puluh Taman Baca Rumcay se-Indonesia. Dan khusus di Bandarlampung, Taman Baca ini akan ditempatkan di samping sekretariat FLP Lampung, kediaman Ketua FLP Lampung, Naqiyyah Syam di Jalan Cempedak Gang Kunir No. 35A Gedungmeneng, Rajabasa, Bandar Lampung.[]





Jumat, 13 September 2013

Biasakan Menulis di Kelas Menulis


Sabtu (13/9) usai mengawas try out di sekolah dalam rangka persiapan Ujian Nasional 2014, saya mesti masuk kelas lagi. Ada satu program yang saya rancang sejak beberapa bulan lalu, yakni kelas menulis cerpen dan puisi. Awalnya, hajat ini, berlangsung sekitar April. Namun karena di Tahun Pelajaran 2012--2013 saya memegang kelas IX yang mengharuskan fokus untuk kelulusan para
Merangkai kata untuk perkenalan
siswa, urunglah sejenak. Melanjut pada bulan berikutnya, saya disibukkan diri dalam pengurusan beasiswa S-2, kelas menulis di Forum Lingkar Pena Cabang Bandarlampung, mengejar program kerja, dan sederet agenda lain yang mau tak mau membuat saya menyerah lagi. Hingga beberapa bulan ke depan, taraaaa.... harus aksi di Tahun Pelajaran 2013--2014! Alhamdulillah pertemuan pertama kelas menulis cerpen dan puisi dipermudahkan Allah.


Hal ihwal kelas menulis cerpen dan puisi ini berlangsung ketika beberapa bulan lalu di tempat saya bekerja: SMP IT Ar Raihan memberikan kesempatan bagi para siswa yang memiliki bakat di bidang sain, sosial, dan Bahaa Inggris. Dengan tujuan, bila ada perlombaan, guru-guru yang terkait di bidangnya, hanya menjaring siswa-siswa yang sudah digembleng di kelas pengembangan bakat dan minat meski tidak menutup kemungkinan siswa lain yang berkompeten dapat mengikutinya. Saya mengusulkan juga untuk bidang Bahasa Indonesia. Karena tidak memungkiri, tiap tahunnya, ada perlombaan di bidang itu, seperti FLS2N,
Perkenalan Zahra
lomba di MGMP, lomba Cipta-Puisi yang diadakan Hima di universitas-universitas di Lampung, serta perlombaan Bahasa Indonesia lainnya. Hal demikian, mendorong saya bagaimana caranya di sekolah saya memiliki aset yang dapat mengikuti perlombaan di bidang Bahasa Indonesia. Hingga akhirnya, usul itu pun saya sampaikan pada Koordinator Pengembangan Bakat dan Minat, Hernawan, yang sekaligus Guru Sain. Alhamdulillah, usulan diajukan pada Kepala SMP IT Ar Raihan, Zaiyad Namiri, S.Pd.I., lalu disetujui.

yaAda sederet program kerja yang usai saya dibuat. Dari tahap perkenalan, SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan Sastra, membuat release tiap acara kegiatan di sekolah, menegnal komunitas menulis di Lampung, seperti Forum Lingkar Pena, hingga pembuatan antologi bersama. Wah, kok terkesan melebar ya kelas menulis cerpen dan puisinya? Hehe, pelan-pelan deh. Lakukan hal terkecil dulu.


Saya sebagai pembimbing untuk kelas menulis cerpen dan puisi, sangat senang sekali bisa menulari sedikit ilmu yang saya miliki. Meski saya akui, saya pun masih terus belajar dan belajar di bidang kepnulisan, khususnya sastra. Saya tergabung di satu organisasi kepenulisan di Bandarlampung: Forum Lingkar Pena Cabang Bandarlampung yang tengah masuk tahun ke-2, tepatnya sebagai ketua bidang kaderisasi. Di sana, saya banyak belajar bagaimana cara mengader anggota yang hobi dan ingin sekali bisa menghasilkan karya. Banyak ilmu yang saya dapat. Dan saya tak ingin ilmu-ilmu yang terurai itu, hilang begitu saja, tanpa bekas. Tak banyak tulisan saya yang masuk media dan jadi juara, tapi sedikit menaruh harapan agar anak-anak termotivasi.

Nah, ini dia kegiatan menulis hari ini. Sebagai langkah awal, saya menginstruksikan
Zulfa mempresentasikan karya
pada anak-anak untuk memperkenalkan diri dalam bentuk narasi. Dari nama lengkap, tanggal lahir, hingga motivasi untuk menulis. Banyak celoteh yang membuat saya menyimpulkan senyum. Banyak ekspresi yang saya tuai karena kepolosan mereka mengutarakan diri.


Kelas menulis ini memang tidaklah terdiri atas banyak siswa. Kurang lebih sekitar sepuluh orang. Namun, hari ini pun yang datang hanya separuh. Ah, tak mengapa, ini baru permulaan. Jadi harus membangkitkan semangat agar menarik yang lain sehingga ingin belajar menulis. Beberapa siswa yang berpartisipasi ialah Zulfa Nurul Izzah yang berasal dari Kelas Maliki. Ialah adalah mantan reporter cilik di Lampung Post. Pernah ia mewawancarai Wakil Presiden Republik Indonesia, Budiono. Selain itu, Zulfa telah berulang kali menjuarai perlombaan menulis cerita anak dan cerpen. Cita-citanya pun sangat luar biasa, ingin menjadi jurnalis terkenal.

Nah, selain itu, anggota kelas menulis cerpen dan puisi yang lain ialah Sharifa Rania Assegaf (Rania), Aura (Awa), Halimatuzzahra (Zahra), dan Trishnalifa (Nafa). Mereka sangat bersemangat sekali untuk menulis. Mengutarakan segala hal berkaitan tentangnya sebagai langkah awal pendekatan diri untuk menulis. Ternyata, meski baru kelas VIII SMP, mereka telah menghasilkan beberapa karya yang sempat jadi juara ataupun disimpannya di laptop. 

Teruslah berkarya, Awa!
Kelas menulis diadakah tiap Sabtu, pukul 11.00--13.00 WIB, usai ekskul yang diminati masing-masing siswa. Harapan ke depannya, dengan adanya kelas menulis ini, membudayakan menulis di kalangan siswa. Selalu menghidupkan literasi yang masih cukup jarang digemari siswa. Selain itu, target kelas menulis yang paling tinggi ialah dapat membuat antologi cerpen dan puisi sebagai bentuk pengapresiasian diri. Bentuk penghargaan diri agar mereka abadi karena tulisannya.

Adapun yang ingin sekali saya harapkan bagi anak didik saya. Tidak sekadar tulisan yang dibaca lalu usai dan dilupakan. Atau bahkan, bisa jadi terbuang di bak sampah begitu saja. Akan tetapi, ingin sekali mereka menghasilkan tulisan yang baik dan mencerahkan bagi pembaca. Tulisan sebagai ladang dakwah. Siapa yang membaca, hati akan tergugah melakukan kebaikan. Siapa yang membaca, ada nilai-nilai moral dan agama yang patut dicontoh. Siapa yang membaca, dapat mengambil hal positif dan membuang jauh sifat negatif yang ada dalam aliran kata yang dirangkai.

"Menulis menjadikan saya selalu ada. Menulis sebagai cara menebus rindu yang tak bisa disampaikan. Menulis adalah bentuk cinta pada diri. Menulis adalah ketenangan. Menulis adalah dakwah yang dapat saya lakukan. Semoga barokah."

Itulah sekelumit kalimat yang saya rangkai mengenai menulis. Semoga kita kekal karena menulis. Semoga semangat untuk menulis itu selalu ada. Dan pastinya, kita takkan tertelan di tengah masyarakat. Semoga tetap jadi manusia abadi.

Salam menulis!

Jumat, 16 Agustus 2013

Azhar Membayar Utang Budi Dengan Menulis


kegiatan menulis dipandu Ketua FLP Cabang Bandarlampung

Sejak kemarin, ponselku berdering. Banyak pesan yang masuk dan bertanya perihal agenda kelas menulis FLP Cabang Bandarlampung, Jumat, 16 Agustus 2013, di Saung Beringin Unila. Awalnya, format tempat untuk kelas menulis, as usual, di belakang Rektorat Unila. Namun, karena baru ingat rutinitas kampus sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu, akhirnya semalam mesti SMS ralat berkenaan perubahan tempat. Baterai handphone lowbat, mati listrik pula! Dan... tak lama, handphone pun mati.

Yihaahh... bertemu pagi. Setelah subuhan, aku sibuk di dapur. Cuci ini-itu, buat ini-itu, bereskan ini-itu sampai tidak terasa kalau jam menunjukkan hampir pukul 08.00. Alamaaak!! Ambil seribu langkah langsung ngacir ke kamar mandi dan bersiap-siap.

Penulis Ja(t)uh mengenakan kemeja merah panjang
Spidometer motor berjalan cepat. Untungnya, aku cukup jitu berkendara. Nyelip sana-sini. Klakson sana-sini. Gileee... hari ini jadi Valentino Rossa (Rossi versi perempuan) harus sampai dalam waktu lima belas menit Teluk Betung Selatan--Cengkeh agar nggak telat and malu-maluin. Masa' yang punya hajat malah telat, hi hi. Oke, sampai di rumah Mbak Naqiyyah Syam (Ketua FLP Wilayah Lampung), rumah dikunci, suara dua ucrit (Faris dan Fatih) tidak terdengar seperti biasa kalau aku datang. Feeling berjalan, Mbak Naqiy tidak di rumah. Aku merogoh ponsel di tas. Benar saja Mbak Naqiy mengabari dirinya sedang tak di rumah. Beliau tengah di Indomaret. Gubraak! Okey deh, langsung banting setir menuju lokasi. Menjemput Mbak Naqiy, Faris dan Fatih. Busyeet... baru kali ini aku bonceng tiga orang. Nyaliku diadu sama Mbak Naqiy dan dua anak laki-lakinya. But, so nice.



Setiba di Saung Beringin Unila, mata minusku menembak beberapa orang yang sepertinya tengah menunggu. 'Sepertinya, calon anggota FLP' batinku. Tepat sekali. Beberapa calon anggota FLP Cabang Bandarlampung sedang menanti kami. Dengan sigap, saya, Tri Sujarwo (Ketua FLP Cabang Bandarlampung), dan teman lainnya langsung mencari posisi yang nyaman untuk kami tempati lalu menggelar tikar dan banner sebagai alas duduk.

Tidak menunggu lama, Tri Sujarwo langsung memandu acara. Azhar Nurun Ala yang jadi pemateri kelas menulis FLP Cabang Bandarlampung kali ini. Penulis asal Lampung itu sudah menelurkan antologi puisi secara self publishing yang berjudul JA(T)UH yang laku keras dalam penjualannya. Azhar--sapaan akrabnya--juga tengah dalam proses penerbitan novel.

keantusiasan FLP Cabang Bandarlampung menyimak materi
Mahasiswa yang menjabat Wakil Ketua BEM UI itu, dulu sama sekali tidak menyukai membaca dan menulis. Namun, di semester III, ia diamanahkan menjadi Ketua Pelaksana Ospek di fakultasnya yang mengharuskan Azhar membaca. Kali pertama buku yang dibaca ialah Anis Matta "Gerakan ke Negara" berbicara tentang bagaimana gerakan kecil bisa menegara. Juga penulis Dewi 'Dee' Lestari yang menjadikan kecoa, jatuh cinta, dan kopi dalam tulisannya. Dari situlah Azhar merasa utang budi. Untuk membalasnya, ia pun menulis. Menulis yang memiliki nilai positif. Ia mulai rutin menulis di media blog dan note Facebook


"Menulis dapat membuat saya berpikir sistematis. Menulis berhasil mempertemukan dua dunia: penulis dan pembaca," paparnya. Saya tidak banyak target dalam menulis. Saya ingin merasa bebas dengan menulis. Saya tidak suka dengan birokratif yang mengharuskan ini-itu. Yang terpenting bagaimana tulisan memiliki nilai positif bagi pembaca," tambahnya.

membaca dan menulis adalah dua dunia bagi penulis
Menurut Azhar, menulis memiliki daya hipnotis, tidak seperti berbicara yang terkesan menggurui. Membuat pembaca loyal terhadap tulisan, tidaklah mudah. Butuh konsisten menulis yang tinggi. Dan sayang, bila ada orang yang pandai menulis, tapi tidak mem-publish tulisannya. Penulis yang penjualan bukunya lima ratus buah dan hanya tersisa empat puluh buah itu pun, hanya ingin  menulis sesuai apa yang ada di pikirannya. Ia enggan menulis di luar kemampuannya.

Berkaitan branding, berbicara tentang bagaimana sebuah tulisan dapat menyentuh dan memiliki nilai bagi pembaca. Setiap penulis pasti memiliki karakteristik tersendiri. Ada tiga hal yang mesti diperhatikan dalam branding. Pertama, diferensiasi: berkenaan tentang keunikan yang pasti dimiliki masing-masing penulis. Kedua, kita harus menentukan siapa targetan untuk tulisan kita. Ketiga, bagaimana kita harus memiliki konsistensi tinggi dalam menulis.
tak lupa kami pun berfoto



Sesi tanya-jawab pun dibuka Jarwo. Salah satu penanya menanyakan bagaimana strategi menyiasati waktu untuk menulis? Azhar pun menjawab dengan tegas, "Saya menulis ketika saya benar-benar ingin menulis. Saya menumpahkan semua pemikiran saya melalui blog, note Facebook, dan sebagainya. Saya menulis tidak membuat kerangka pikiran, yang mungkin dilakukan banyak orang. Lagi-lagi, saya menulis berdasarkan kemampuan saya. Saya sangat enggan menuliskan sesuatu yang tidak memumpuni diri saya."  

Kelas menulis FLP Cabang Bandarlampung yang dihadiri FLP Cabang
Bandarlampung dan Lampung Timur ini pun usai pukul 11.15 diiringi hujan yang mulai berjatuhan. Akhir sesi ditutup dengan mendokumentasikan diri dengan foto bersama. [] 

Diawali dengan Window to The World

           Bismillah.... kemblai menulis, memenuhi blog pribadi yang lama tak ditumpahi segala kata yang malah dengan sengaja saya penjaraka...