Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2013

Aku dan Seribu Mimpi

Aku dan seribu mimpi
Tak lenguh akan tapakan jalan
Menuju terjal
juga sungai

Aku dan seribu mimpi
Tak surut ketika malam bersahut
Tak puruk kala angin memagut
Kantuk merayu manja
Bunga tidur menyapu penuh goda

Aku dan seribu mimpi
Ditemani secangkir kopi dan dingin

Menatap ibu dan lara
Menilik ayah dan kerut wajah
Ah, rasanya aku enggan memejamkan mata
Ingin terus bulirkan mimpi
Terus menyeret kaki tiada tepi

Aku dan seribu mimpi
masih ingin jadi raja
Saat malam melenggang pongah
Saat kaingan anjing menggigil dan kalah akan lelap

Aku dan seribu mimpi
tak ingin segera usai []

Selasa, 12 Maret 2013

Sajak Sederhana

Aku ingin menguntai namamu dalam rima sajak sederhana. Adakah "mau" 'kan Kau ucap? Ah, malam ini aku tersuruk pada sepi, tak sepenggal gelakmu yang biasa menabuh-nabuh telinga. Aku ingin Kau ada. Selasa, pkl. 21.18 Bandarlampung #untukmu, sajak sederhana

Sabtu, 16 Februari 2013

Adalah Menulis

"Menulis adalah ketenangan. Menulis adalah kerinduan yang mesti terbayar. Menulis adalah perasaan suka, lara, juga nuansa. Menulis adalah proses kreativitas unik dibandingkan yang lain. Menulis adalah rekap ulang membaca. Menulis adalah kebahagian. Dan menulis adalah keabadian yang tak padam. Lantas, apakah yang memberatkan untuk menulis?" #Salam menulis untuk jiwa-jiwa yang abadi.

Jumat, 15 Februari 2013

Ketiadaan

Apatah arti dari sebuah ketiadaan? Kecuali segenggam nelangsa yang tersuruk dalam kenang.

Rabu, 13 Februari 2013

Menghidangkan Sajak


Sejak kapan kau gemar hidangkanku sajak?
Bermandi-mandi dengan ratusan kata
Juga menari di kerimbunan imaji
Usai gerimis meluruh
Itukah mulanya?

Selasa, 12 Februari 2013

Adalah Kamu



Adalah kamu, larik sederhana
Tersusun beberapa kata saja
Berpadu vokal, konsonan, juga nuansa

Adalah kamu, mimpi yang membingar
Di tengah rindu yang kuubah hambar
Tercekat, tercenung, dan mendung
Aku hanya merindu hujan,
menyapumu, menjadikanmu pualam.




*untuk kamu—larik sederhana—mimpi tak pernah nyata.


Bandarlampung, 12 Feb’ 2013

Minggu, 11 November 2012

Menyeduh Lara

Mengapa ada tangis?
Bukankah lara itu sejak dulu Kau yang seduh, tapi baru Kau teguk kini.
Nikmatilah.

Sabtu, 10 November 2012

Sepi

Sepi memagut
Sepi memenjara
pun di luar tiupkan sembilu
Tentang belukar yang memaksa dada
untuk merasa

Aku nelangsa...

yang tersisa hanya serpihan-serpihan kata
Kujalin saja jadi sajak sederhana
Kuharap kau baca
Lalu kau genapkan makna

Mencari Jejak

Pagi-pagi aku merayap
Mencari langkah-langkah lenyap
Yang termakan surya
Di senja berkarat

Pagi-pagi aku menyibak
Mimpi yang mencekam dalam balutan lelap
Tergopoh aku bicara
Tentang luka
Tentang rindu
Tentang engkau
serta jejakmu
yang bisu bersama deburan ombak
menampar bibir pantai
lalu ditelan gelap

Aku hampa...

Hilang, Kataku

Malam-malam menjadi pahit.
Rasanya aku hilang tiap malam. Sebab rindu yang mencekik.
Sudah lama kutunggu. Lebih dari ribuan senja yang padam. Tetap menunggu.
Hampa menikam terus-terusan. Rindu. Pedih. Kamu tahu itu? Atau mungkin Kau tak bisa membaca air mata?

Merindu itu indah atau sakit?
Kehilangan itu laksana warna yang tergores di kanvas atau garis hitam yang bertalu-talu.
Aku hanya ingin bilang: "rindu." titik. Aku hanya ingin jerit: "Hilang, kataku"
Musim-musim tertelan, kau tetap hilang.
Lagi kusampaikan: aku rindu. Tapi Kau hilang, melulu.



untuk kamu, malam pahit

Rabu, 24 Oktober 2012

Bila Kau


Bila Kau kira ucapku dusta,
silakan
Bila Kau kira mataku berteman dendam,
keliru
Bila Kau kira puisiku omong kosong
Lantas,
Buat apa hari-hari kuukir namamu?
        Pada kertas-kertas putih yang bungkam

(Senja, 24 Oktober ’12)

Diawali dengan Window to The World

           Bismillah.... kemblai menulis, memenuhi blog pribadi yang lama tak ditumpahi segala kata yang malah dengan sengaja saya penjaraka...