Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 November 2014

Menulis itu Bukan Titisan

Akhir pekan begini, usai mengisi ekskul jurnalistik, hal yang paling menyenangkan ialah berkutat di laptop. Tuts tuts laptop diketik satu-satu. Gentar tahan kantuk yang belum kunjung henti juga menggoda. Wahh... paling asyik memang merebahkan badan dan memejamkan mata. Meluruhkan lelah yang menumpuk sejak Senin hingga Sabtu ini. Tapi, semuanya memang akan terbayar bila sudah mem-posting blogger meski barang satu--dua tulisan.

Menulis itu Bukan Titisan
Menulis itu bukan titisan. Ya, Judul dan subjudul yang aku usung. Tetiba ingat setahun lalu sempat mengikuti workshop kepenulisan dan aku mengikuti lomba menulis. Beberapa orang aku wawancarai. Mereka menyukai menulis. Menulis apa saja itu. Diary, opini, cernak, hingga esai. Sasaran salah satunya ialah Naqiyyah Syam, Ketua FLP Lampung yang kini harus turut serta sang suami yang menimba ilmu magister di Universitas Andalas. Saat itu, aku bertanya padanya, bagaimana membudayakan menulis. Ah, ia amat santai menanggapi pertanyaanku. Ia bilang, kuncinya adalah menulis. Ya, menulis! Tiada jalan lain.

Selain itu, Naqiyyah Syam sempat berbagi juga tentang kesukaannya membaca buku. Sejak kecil, ayahnya, kerap membelikannya buku. Sebelum tidur, Naqiyyah kecil hampir tiap malam didongengkan. Karena kebiasaan-kebiasaan itulah, yang membuatnya terus-terusan suka membaca buku. Terlebih kini, semangat menulisnya selalu bergemuruh untuk terus dan terus menulis, sesibuk apa pun ibu dua orang putra dan satu putri ini. Baginya, harus menulis saat keadaan apa pun. Menulis tak perlu melihat apakah ia memiliki titisan ayah atau ibu yang bisa menulis. Menulis ya, menulis! Untuk siapa pun itu. 

Kita Belajar Menulis
Belum lama, aku memberikan materi menulis cerpen pada jam pembelajaran di kelas. Dari cara merangsang ide, membuat mind mapping, hingga proses editing berkaitan ejaan dan tatabahasa. Semuanya dikupas di hadapan para siswa. Tiada lain dengan tujuan para siswa memiliki bekal menulis. Ya, lagi-lagi menulis.

Reaksi apa yang mereka berikan? Hampir semua siswa di kelas merajuk bahwa mereka tidak bisa menulis. Lantas, reaksi apa yang aku berikan? Ya, aku tertawa. Menertawai mereka. Menertawai kesia-siaan mereka yang selama berbelas tahun belajar Bahasa Indonesia, tetapi belum menghasilkan sedikit pun tulisan sebagai rekam jejaknya.

Jumat, 11 Oktober 2013

Aku Ingin Ayah




Sejak tiga belas tahun lalu, aku tak mau sepeda baru. Tidak juga baju baru laiknya bocah kecil seusiaku. Aku hanya ingin ayah meski desau kulalui.

Saat kutulis kisah ini, senja telah lama berjingkat. Langit berganti gelap. Malam dan dingin menyandingiku bersama rasa tawar yang hambar. Kantuk menggigit perih dua bola mataku. Bunga tidur merajuk manja—memintaku agar segera usai menulis—meluruhkan lelah dengan melelapkan mata. Hentikan mimpiku barang sejenak.
         Mimpi. Masih pantaskah aku bermimpi? Ingin ini dan itu, sementara separuh hidupku merapuh sejak lama. Mimpi. Masih layakkah ia kukejar, sementara salah satu “sayapku” susut begitu saja. Aku nestapa. Ayah, tahukah kau? Ada lirih yang menggigil inginkan engkau.
         Ayah, mungkin kau tahu, aku bukanlah buah hatimu yang pandai meraung bila satu hadiah saja kau tak penuhi. Ayah, mungkin kau juga hafal siapa anakmu yang paling rajin sajikan secangkir kopi di pagi hari tatkala dengkuranmu masih nyaring-mengudara. Ayah, tahukah kau ada sembilu di dada. Menari-mengukiri putaran waktu tiap desah napasku.  
         Ayah, aku ingat sekali. Kala itu aku masih duduk di bangku SMP. Waktu menunjukkan pukul 14.00. Para siswa berhamburan dari kelas. Begitu juga aku. Mereka berlari, menuju ayahnya yang sudah duduk manis menjemput putra-putrinya. Sementara aku tak temui engkau di sana. Aku menahan sedih amat kentara. Aku harus berjalan cukup jauh hingga kutemui mobil angkutan umum menuju rumah. Aku iri dengan mereka, Yah. Satu-satu temanku melambaikan tangannya lalu hilang dari pandangan. Sedih itu kutahan dalam batin, Yah. Tahukah engkau, ayah?
        

Sabtu, 21 September 2013

Aku Masih Cinta Sendiri

waktu pukul 05.38. aku masih duduk sambil menarikan jemariku di tuus komputer jinjing yang sudah lebih dari etengah tahun lalu kubayar secara berkala. langit masih abu-abu. denyar cahaya surya belum kunjung jua. semalam, temanku upload foto pernikahannya. ah, ada geletar berjalan hebat dalam aliran darah. satu satu sahabat sma atau pun kuliah, berhasil menanggalkan status lajang. sementara aku? aku masih cinta dengan sendiri. masih cinta dengan duniaku. masih cinta tak ingin tinggalkan ibu meksi sejatinya pernikahan bukanlah meninggalkan orang tua. jelas, itu adalah sunnah Rasulullah..

Diawali dengan Window to The World

           Bismillah.... kemblai menulis, memenuhi blog pribadi yang lama tak ditumpahi segala kata yang malah dengan sengaja saya penjaraka...