Akhir pekan begini, usai mengisi ekskul jurnalistik, hal yang paling menyenangkan ialah berkutat di laptop. Tuts tuts laptop diketik satu-satu. Gentar tahan kantuk yang belum kunjung henti juga menggoda. Wahh... paling asyik memang merebahkan badan dan memejamkan mata. Meluruhkan lelah yang menumpuk sejak Senin hingga Sabtu ini. Tapi, semuanya memang akan terbayar bila sudah mem-posting blogger meski barang satu--dua tulisan.
Menulis itu Bukan TitisanMenulis itu bukan titisan. Ya, Judul dan subjudul yang aku usung. Tetiba ingat setahun lalu sempat mengikuti workshop kepenulisan dan aku mengikuti lomba menulis. Beberapa orang aku wawancarai. Mereka menyukai menulis. Menulis apa saja itu. Diary, opini, cernak, hingga esai. Sasaran salah satunya ialah Naqiyyah Syam, Ketua FLP Lampung yang kini harus turut serta sang suami yang menimba ilmu magister di Universitas Andalas. Saat itu, aku bertanya padanya, bagaimana membudayakan menulis. Ah, ia amat santai menanggapi pertanyaanku. Ia bilang, kuncinya adalah menulis. Ya, menulis! Tiada jalan lain.
Selain itu, Naqiyyah Syam sempat berbagi juga tentang kesukaannya membaca buku. Sejak kecil, ayahnya, kerap membelikannya buku. Sebelum tidur, Naqiyyah kecil hampir tiap malam didongengkan. Karena kebiasaan-kebiasaan itulah, yang membuatnya terus-terusan suka membaca buku. Terlebih kini, semangat menulisnya selalu bergemuruh untuk terus dan terus menulis, sesibuk apa pun ibu dua orang putra dan satu putri ini. Baginya, harus menulis saat keadaan apa pun. Menulis tak perlu melihat apakah ia memiliki titisan ayah atau ibu yang bisa menulis. Menulis ya, menulis! Untuk siapa pun itu.
Kita Belajar Menulis
Belum lama, aku memberikan materi menulis cerpen pada jam pembelajaran di kelas. Dari cara merangsang ide, membuat mind mapping, hingga proses editing berkaitan ejaan dan tatabahasa. Semuanya dikupas di hadapan para siswa. Tiada lain dengan tujuan para siswa memiliki bekal menulis. Ya, lagi-lagi menulis.
Belum lama, aku memberikan materi menulis cerpen pada jam pembelajaran di kelas. Dari cara merangsang ide, membuat mind mapping, hingga proses editing berkaitan ejaan dan tatabahasa. Semuanya dikupas di hadapan para siswa. Tiada lain dengan tujuan para siswa memiliki bekal menulis. Ya, lagi-lagi menulis.
Reaksi apa yang mereka berikan? Hampir semua siswa di kelas merajuk bahwa mereka tidak bisa menulis. Lantas, reaksi apa yang aku berikan? Ya, aku tertawa. Menertawai mereka. Menertawai kesia-siaan mereka yang selama berbelas tahun belajar Bahasa Indonesia, tetapi belum menghasilkan sedikit pun tulisan sebagai rekam jejaknya.

